Salam Olahraga!!!
image

Dr. Eko Widodo, sports lecturer/jounalist

ekowidodo@yahoo.com;WhatsApp- +628989-777777


Penulis berpendidikan S1 Fateta IPB; Magister Manajemen Pemasaran Univ. Moestopo; S3 Program Pasca Sarjana UNJ di Sports Education. Wartawan olah raga 1994-2015 di BOLA. Sekarang Wartawan di Sports Channel Indonesia; Dosen Pascasarjana UNJ
widget medsos

Buku Sports Event
image

Sport in the City - The Role of Sport in Economic and Social Regeneration # editor C Gratton dan I Henry (2001); 335pp Routledge

Buku Sports Development
image

Sports Development - Policy, Process, and Practice # editor Kevin Hylton dan Peter Bramham (2008); 285pp Routledge

Buku Sports Marketing
image

Introduction to Sport Marketing # Aaron C.T. Smith (2008); 341pp Elsevier

Copyright © 2018 EkoWidodo · All Rights Reserved

Cek Nama Domain

Check Domain Name ?

Batik Pria Tampan
image

BATIK PRIA TAMPAN

Rendang Uninam
image

Rendang Uninam

RSS Feed

Labirin Waktu Milik Sulungku

“…hidup itu seperti sekotak coklat. Kamu tidak akan pernah tahu apa yang akan kamu dapatkan. The world will never be the same ..”

Itu penggalan ucapan Forrest Gump yang diperankan istimewa oleh Tom Hanks di film “Forrest Gump.” Tak ada yang tahu nanti seorang anak nantnya akan menjadi apa.


Jika mundur, beberapa tahun lalu di SMAN Negeri 2 Madiun di Jalan Biliton 24 Madiun, tak ada yang tahu saya akan menjadi apa, termasuk kedua orangtuaku sekalipun. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi dalam beberapa tahun ke depan untuk sulungku, Cakrawala.

Sulungku baru saja lulus dari SMAN 3 Jakarta. Ia akhirnya pergi dan diterima di Fakultas Teknik jurusan Teknik Industri Universitas Surabaya (Ubaya). Ia angkatan 2014. Ia berkuliah di sana lewat jalur prestasi bola basket. Artinya, sampai lulus nanti, kami tak mengeluarkan sepeser pun ke Ubaya.

Kawan-kawan, masih ingat dengan sepenggal puisi indah Kahlil Gibran:

“Anakmu bukanlah milikmu,
mereka adalah putra putri sang Hidup,
yang rindu akan dirinya sendiri.

Mereka lahir lewat engkau,
tetapi bukan dari engkau,
mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.

Berikanlah mereka kasih sayangmu,
namun jangan sodorkan pemikiranmu,
sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri.

Patut kau berikan rumah bagi raganya,
namun tidak bagi jiwanya,
sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
yang tiada dapat kau kunjungi,
sekalipun dalam mimpimu.

Engkau boleh berusaha menyerupai mereka,
namun jangan membuat mereka menyerupaimu,
sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
ataupun tenggelam ke masa lampau.

Engkaulah busur asal anakmu,
anak panah hidup, melesat pergi.

Sang Pepanah membidik sasaran keabadian,
Dia merentangkanmu dengan kuasaNya,
hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.

Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pepanah,
sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat,
sebagaimana dikasihiNya pula busur yang mantap”


Kembali ke cerita si Sulungku.

Sang Pencipta sudah menciptakan masa depan untuk si Sulung. Saya dan istri hanya bisa menyiapkan bekal untuk perjalanannya. Ibaratnya makan, kami siapkan ‘duduh’ (kuah) dan ‘lawuh’ (lauk), agar ia menikmati apapun rezeki yang diberiNya dalam perjalanan panjang. Duduh dan lawuh itu juga pahit manis membesarkannya. Kami pernah membentaknya namun juga selalu memeluknya. Kadang omelannya menyakitkan hati, namun ketika matanya terpejam ke pulau kapuk, kami hanya bisa berkaca-kaca memandang titipan-Nya itu sudah bersiap meninggalkan kami, sebentar lagi.


Cakrawala ternyata jauh lebih canggih dari Bapaknya. Jadi atlet basket nasional dan pebasket pelajar berprestasi, membuatnya jadi superstar. Ia terbang ke Amerika Serikat saat masih berusia 17 tahun. Hampir di setiap level turnamen yang diikuti, selalu ada yang minta foto bersama dengan Uno, panggilan akrab sulungku. Saya perlu menunggu kuliah 4 tahun dan kerja 2 tahun sampai seorang fans mendatangi dan minta foto bareng…

Saya berniat berbagi pengalaman bagaimana Bapaknya dulu mencari uang tambahan dengan jadi penjaga parkir, atau menjual jasa disuruh-suruh, jualan telur pas kuliah, jualan kue, sampai pekerjaan elit dengan menjadi asisten dosen dan guru les. Namun, ternyata Si Sulung sudah lebih maju. Ia mendapatkan sumber penghasilan sendiri lewat jual beli di KasKus. Gak ribet, simpel, dan uangnya besar. Saya pernah nitip jualkan kamera untuk biaya ujian S3 saya, ternyata hanya dalam waktu 30 menit, uang udah masuk di rekeningnya! Canggih.

Mesin Waktu yang Berbeda

Hidup itu mencari teman sebanyak mungkin, tanpa membeda-bedakan. Saya suka berdiskusi dengannya. Namun, saya gak percaya ternyata pertemanannya jauh lebih ‘in depth‘ dibandingkan zaman saya.

Suatu hari, sebuah telepon datang usai Maghrib. “Mohon izin Cakra menginap di rumah sahabatnya di daerah Menteng..” Ketika disebut alamat dan nomornya, ternyata itu alamat seorang Jendral yang semasa G30-S/PKI suka menjadi tertawaan kita sebab ia ditembak kakinya dan terjatuh dari tembok… Ya, ternyata sulung menginap di rumah almarhum Jendral AH Nasution. Kakak Ade Irma Suryani, yang sekarang sudah nenek-nenek, ternyata sudah menganggap si Sulung salah seorang cucunya sendiri, sehingga, rumah yang sekarang menjadi museum AH Nasution itu diminta dianggap sebagai rumah sendiri. Kalah total deh untuk urusan berteman dan membangun relasi.


Saya itu penggemar berat Iwan Fals. Suatu saat, saya mengantar Sulung latihan basket. Dari jauh saya lihat ada orang mirip Iwan Fals. Ternyata memang itu Iwan Fals. Ia tengah mengantar anaknya, Cikal, latihan basket, satu grup kebetulan dengan anak saya. Sebuah mimpi yang menjadi kenyataan. Itu karena aktivitas bola basketnya sehingga saya ketemu idola.

Mesin waktu saya dengan Cakra memang berbeda. Saya juga tak pernah menyesal dibesarkan di Madiun dalam segala keterbatasan, dibandingkan dengan si Sulung yang dibesarkan di Jakarta dengan segala kelengkapannya.

Dahlan Iskan, tokoh inspirasional, pernah berucap “Tuhan menaruhmu di tempat yang sekarang ini bukan karena kebetulan. Orang yang hebat tidak dihasilkan melalui kemudahan, kesenangan, dan kenyamanan. Mereka dibentuk melalui kesukaran, tantangan, dan air mata.”

Dan, Si Sulung sudah mulai menulis di buku kosong diary perjalanan hidupnya. Ada labirin waktu yang tidak boleh aku lewati, sebab itu adalah rumah masa depan miliknya.

Mon, 19 Oct 2015 @13:32


Write Comment

Name

E-mail (not published)

URL

Comment