Salam Olahraga!!!
image

Dr. Eko Widodo, sports lecturer/jounalist

ekowidodo@yahoo.com;WhatsApp- +628989-777777


Penulis berpendidikan S1 Fateta IPB; Magister Manajemen Pemasaran Univ. Moestopo; S3 Program Pasca Sarjana UNJ di Sports Education. Wartawan olah raga 1994-2015 di BOLA. Sekarang Wartawan di Sports Channel Indonesia; Dosen Pascasarjana UNJ
widget medsos

Buku Sports Event
image

Sport in the City - The Role of Sport in Economic and Social Regeneration # editor C Gratton dan I Henry (2001); 335pp Routledge

Buku Sports Development
image

Sports Development - Policy, Process, and Practice # editor Kevin Hylton dan Peter Bramham (2008); 285pp Routledge

Buku Sports Marketing
image

Introduction to Sport Marketing # Aaron C.T. Smith (2008); 341pp Elsevier

Copyright © 2018 EkoWidodo · All Rights Reserved

Cek Nama Domain

Check Domain Name ?

Batik Pria Tampan
image

BATIK PRIA TAMPAN

Rendang Uninam
image

Rendang Uninam

RSS Feed

Perjalanan 1001 Malam: Berkat Pramuka, Tahan Banting di Amerika

SUATU pagi di awal bulan Juli 1995. Saya dipanggil Redaktur Pelaksana (Managing Editor) Tabloid BOLA bernama T.D. Asmadi. TD adalah kepanjangan dari Tohir Djawahir. Tahun 1995 adalah tahun kedua saya bergabung dengan BOLA.

Pak Tedi, demikian saya memanggil atasan yang sangat baik hati itu, menanyakan apakah saya memahami survival dan hidup di alam bebas. Semua wartawan muda sudah diwawancaranya untuk sebuah tugas berat, namun dipandang kurang yang qualified. Saya adalah wartawan muda terakhir yang diwawancara.

“Sejauh mana Anda memahami kehidupan di alam bebas?” tanya pak Tedi, tak lama setelah saya duduk di kursi tamunya berwarna merah. “Saya biasa hidup susah pak, terutama di Madiun dan pas kuliah di IPB. Di SMA saya aktivis Pramuka. Saya punya lisensi Penegak Bantara. Ada setidaknya 20 poin Syarat Kecakapan Umum (SKU) dimana saya harus lulus,” kata saya.

Saya juga menjelaskan pernah mewakili Madiun di Raimuna Daerah – perlombaan Pramuka Penegak se Jawa Timur – di bendungan Wlingi Raya, Blitar bersama Ibnu Arifin (pradana Gudep III-151 Smada). “Saya mewakili Kwarcab Madiun dengan badge Saka Kencana (Keluarga Berencana), pak,” kata saya, penuh percaya diri. “Saya juga menjadi satu-satunya wakil dari kontingen Kwarcab Madiun yang mendapatkan medali perak dalam lomba penulisan,” tambah saya. Untuk bisa ke Raimuna Daerah, seorang Penegak Bantara harus mengumpulkan Tanda Kecakapan Khusus setidaknya 15 TKK.

“Bisa mandi di sungai? Bisa buang air di alam bebas tanpa air (toilet kering)?” tanya pak Tedi. Saya bilang bisa.”Makan memasak sendiri juga bisa,” tambah saya. Saya jadi inget saat masih bersama Evy Suhartanyo, Adji Rumpowidi, FX Indro, Muh. Anis (almarhum), Mbah Jon (almarhum), Pipit Harwilananto dll saat di Sangga Multatuli di perkemahan Selondo, dalam pelantikan Bantara.


“Kamu bisa rafting dan panjat tebing?” tanya pak Tedi. “Bisa pak. Saya pernah antar turis Prancis pas saya semester 2 di IPB naik gunung Gede dan naik rafting di kali Ciliwung. Saya juga pernah jadi tim SAR IPB di Gunung Walat, Sukabumi dan jadi SAR di Gunung Lawu saat mencari pendaki tewas ketika masih di SMA,” tambah saya lagi.

Satu-satunya pertanyaan yang ragu saya jawab adalah “Kamu bisa berkuda?”. Naik kerbau, gajah, atau sapi sudah pernah. Namun, naik kuda belum pernah sama sekali. Kalau saya bilang tidak bisa, pasti akan dicoret. Akhirnya saya bilang “Sedikit bisa, pak,” kata saya.

Kenapa saya bilang sedikit? Sebab saya suka ngobrol sama kusir delman. Kata pak kusir, naik kuda itu gampang. Tarik kekang kanan kuda belok kanan, tarik kekang kiri kuda belok kiri, tarik keduanya kuda berhenti, dan dipecut perutnya, itu tanda kuda harus lari. Gak sukar, maka saya bilang ‘bisa sedikit’.

Tak lama kemudian, pak Tedi memberikan formulir banyak dan harus segera diisi. Saya masih belum ngeh itu formulir apa.


“Kamu dua bulan lagi ke Amerika, meliput Marlboro Adventure Team. Kamu hidup di alam liar di Moab (Salt Lake City), rafting di Colorado River, naik sepeda di Grand Canyon, naik motor trail di Salt Lake, naik jeep Wrangler 4000 cc dengan peta buta dan kompas bidik sebagai navigasi, serta menjadi koboi di Salida (Colorado). Kamu wartawan Asia pertama yang meliput event itu. Syarat minimumnya adalah yang semua saya tanya tadi,” kata pak Tedi.

Gubrak. Senang tapi juga cemas. Membaca sandi perjalanan dan menggunakan kompas bidik itu mudah. Namun, naik kuda….waduh itu gak terbayang. Apalagi saya harus ikut main melempar laso ke anak sapi  dan menggiring rombongan ternak ala film Bonanza. Hhm, siapa ya yang bisa mengajari naik kuda secara gratis? Sebab, berkuda itu olahraga mahal.

Jalan keluar datang ketika saya ditugasi wawancara Fuad Hassan, mantan Menteri Pendidikan. Saya ke rumah pak Fuad malam-malam di daerah Slipi. Kaget, pas di ruang tamunya ada hiasan kepala kuda. Belakangan, pak Fuad adalah penggemar berkuda kelas wahid. Sejak itu, saya diajari teori naik kuda dan bagaimana mengendalikan kuda.

Mental Pramuka

SETELAH selesai pelajaran berkuda, singkat kata, saya sudah sampai di Los Angeles setelah menempuh perjalanan enam jam dari Honolulu, Hawaii. Bradley International Airport di Los Angeles begitu indah menyambut saya. Malam itu saya menginap di hotel bandara sebab subuh-subuh harus menempuh perjalanan lanjutan ke Salt Lake City, Utah dengan Delta Airlines.

Kelaparan memang menyergap. Oleh penjemput sudah disiapkan hidangan ikan laut segar. Untuk pertama kalinya dalam seumur hidup, saya makan udang segar, tiram segar, dll. Jadi inget film Mr. Bean, di film Holiday, yang mendapatkan hadiah jalan-jalan ke Cannes (Prancis). Ia tak bisa makanan sea food segar sehingga dengan jahilnya, makanan itu ia masukkan ke tas seorang ibu yang asyik ngobrol.

Saya gak bisa begitu saja membuang makanan yang rasanya aneh itu, seperti yang dilakukan Mr. Bean. Sebab, di meja saya dikelilingi para bule dan perwakilan biro iklan Marlboro dari Hong Kong. Tengsin kalau ketahuan.

Jadi inget lagi deh pas kemah yang kena badai dulu di Genilangit. Karena kena badai, saya terpaksa makan nasi setengah matang dengan tahu mentah ha ha ha. Ikan dan hidangan laut itu akhirnya semua masuk mulut setelah saya kombinasi dengan acar sawi putih yang rasanya asam.


Perjalanan ke Salt Lake City Utah juga mengasyikkan. Saya punya tante di Sampang Madura, dimana Sampang produsen garam Indonesia. Namun melihat padang garam dan padang pasir di Salt Lake City, tak terbayang luasnya. Kemana mata memandang, cuma ada garam dan pasir dan segaris kotak yakni landasan pesawat mendarat. Ladang garam di Sampang tidak ada apa-apanya dibandingkan hamparan garam Salt Lake City.

Kami semalam tinggal di Salt Lake City. Saya dan rombongan diantar berbelanja perlengkapan camping. “Beli ya yang berguna untuk pribadi sebab di Moab tidak ada toko,” kata pemandu, yang mendampingi sepanjang di Salt Lake City.

Saya beli apa? Jujur saya memilih menyimpan uang USD 500 yang mereka berikan. Perlengkapan standar untuk kemah sudah saya bawa dari Jakarta. Uang sebesar itu mendingan disimpan untuk beli oleh-oleh ibu, bapak, dan adik-adik saja.

Aktivitas hari itu saya diajak bungee jumping. Tinggi towernya 100 meter. Harga tiketnya USD 200. Panitia membayari saya. “Kalau mau naik lagi, gratis,” kata petugas jaga. Saya akhirnya tiga kali naik bungee jumping itu! Kok nekat, belajar dari mana punya nyali tinggi?

Nyali tinggi itu jelas diajarkan di Pramuka. Dulu, saya dan teman-teman di Sangga Pelaksana, selalu membuka wilayah camping dengan penuh risiko. Saya tak pernah bisa mengalahkan Harwanto (sekarang tinggal di Madiun) yang sangat ringan memanjat pohon pinus yang punya batang tajam itu. Kayaknya dulu Harwanto punya ilmu peringan tubuh, deh…

Ketika survey rute cycling, saya bersama teman-teman surveyor Pramuka, harus mencoba dulu rapelling (merangkak di atas tali) saat menyeberangi sungai yang baunya bikin wow itu. Itulah keterampilan yang sedikit-sedikit membantu mematangkan mental sebagai perantau (sebab lulus sekolah harus hidup mandiri di Bogor).

Camping di Pinggir Sungai Colorado

USAI seharian cooling down di Salt Lake City, barulah perjalanan dilakukan ke Moab, sebuah kota kecil di sungai Colorado, masih di Utah. Sejauh mata memandang banyak karang terjal (canyon) di sana. Kondisi batuan di Moab itu mirip di Grand Canyon di Arizona. Namun, cagar alam suku Indian di Moab ini masih jauh lebih murni. Saya menemukan uang dari batu namun tidak boleh diambil sebab cagar alam itu dilindungi.


Sepanjang perjalanan praktis tak ada rumah penduduk. Saya sudah membayangkan, pasti akan benar-benar sepi. Ternyata benar. Ketika sampai, setelah naik bus 4 jam dari Salt Lake City, hanya kami yang ada di sana. Kota terdekat sekitar 15 km. Sudah tersedia tenda-tenda di atas tanah dan pasir. Air dan keperluan MCK ada di pinggir sungai Colorado, yang dinginnya menusuk tulang.

Satu hari itu dipakai orientasi dan menjelaskan do and don’t sepanjang aktivitas di Moab. Mengambil apa saja, termasuk kerikil sekalipun sangat dilarang. “Banyak pagar-pagar mistis yang dibuat suku Indian yang masih ada di sini. Jangan sekalipun melanggar larangan mereka,” kata Florian Wanigger, instruktur berambut pirang. Rambutnya diikat seperti bintang laga, Lorenzo Llamas. Florian adalah spesialis petualangan sepeda motor.

Setelah orientasi, saya tergoda mandi di sungai. “Kalau berani, silakan saja,” kata Florian. Saya pun nyemplung dengan celana renang. Dammn, kayak masuk di air es. Namun sudah kepalang malu, lanjutkan saja, walau gigi ini gemeletuk…katisen.

Selesai nyebur di sungai Colorado, barulah mandi yang sebenarnya. Rupanya panitia sudah menyiapkan kamar mandi darurat yakni air dari tong kayu. Airnya dipompa dari sungai Colorado. Jadi, kedinginan lagi buntutnya he he he.


Bagaimana caranya buang air besar. Pernah lihat kucing buang air besar? Ya begitulah yang saya lakukan di sana. Modalnya tisu dan antiseptic. Kalau masih terasa kotor, ya terpaksa ke kamar mandi darurat yang dinginnya menusuk tulang tadi. Cebok dengan air es…ya begitulah rasanya…he he. Namun akhirnya panitia berbaik hati dengan memasang 2 toilet semi permanen. Jangan tanya baunya ya….

Sampai hari kelima di Moab, semua kehidupan di alam luas sudah saya rasakan. Tak ada masalah berarti sebab pengalaman semasa Pramuka sangatlah membantu. Saya baru merasakan betapa beruntungnya dulu memilih ekskul Pramuka, sebab bisa membentuk sosok mandiri dan percaya diri.

Mon, 19 Oct 2015 @13:32


Write Comment

Name

E-mail (not published)

URL

Comment