Salam Olahraga!!!
image

Dr. Eko Widodo, sports lecturer/jounalist

ekowidodo@yahoo.com;WhatsApp- +628989-777777


Penulis berpendidikan S1 Fateta IPB; Magister Manajemen Pemasaran Univ. Moestopo; S3 Program Pasca Sarjana UNJ di Sports Education. Wartawan olah raga 1994-2015 di BOLA. Sekarang Wartawan di Sports Channel Indonesia; Dosen Pascasarjana UNJ
widget medsos

Buku Sports Event
image

Sport in the City - The Role of Sport in Economic and Social Regeneration # editor C Gratton dan I Henry (2001); 335pp Routledge

Buku Sports Development
image

Sports Development - Policy, Process, and Practice # editor Kevin Hylton dan Peter Bramham (2008); 285pp Routledge

Buku Sports Marketing
image

Introduction to Sport Marketing # Aaron C.T. Smith (2008); 341pp Elsevier

Copyright © 2018 EkoWidodo · All Rights Reserved

Cek Nama Domain

Check Domain Name ?

Batik Pria Tampan
image

BATIK PRIA TAMPAN

Rendang Uninam
image

Rendang Uninam

RSS Feed

NBL Indonesia, Buah Belajar Budaya Unggul Tontonan Olah Raga dari NBA, Australia, dan Filipina

image

Bola basket Indonesia pernah memiliki model tontonan menarik, berprospek, dan masif. Namanya NBL Indonesia (National Basketball League). Namun NBL Indonesia sudah almarhum. Liga ini adalah blessing sebab liga pro versi lama bernama Kobatama dan Indonesia Basketball League (IBL) tidak bisa berfungsi sebagai tontonan berkelas dan berprospek ekonomis.

Liga ini dimulai musim 2010-11. Ketua Umum PP Perbasi saat itu, Noviantika Nasution, meminta PT DBL Indonesia mengelola liga yang dua musim sebelumnya berjalan namun jauh dari kualitas sebagai liga bola basket tertinggi Indonesia. DBL Indonesia pun menerima kontrak penyelamatan liga itu selama tiga musim, lantas menambah kontrak dengan dua tahun lagi.

Langkah pertama yang dilakukan DBL Indonesia adalah inventarisasi masalah dengan melibatkan Dewan Komisaris. Dewan Komisaris adalah perwakilan masing-masing klub plus wakil dari Pengurus Pusat (PP) Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi). Dewan Komisaris (Dekom) dipimpin oleh Ketua Dekom.

Dari hasil assesment, muncul usulan untuk mengubah nama produk dari IBL menjadi NBL. "Itu namanya strategi branding. Nama IBL tidak komersial lagi. Secara produk, mereka sudah memberikan citra negatif. Maka, langkah pertama kami adalah mengubah produknya dulu," kata Azrul Ananda, Direktur DBL Indonesia sekaligus komisioner Liga NBL Indonesia.

Langkah kedua adalah mengubah sistem penyelenggaraan. Penggunaan simbol-simbol liga yang benar digunakan. Tidak tanggung-tanggung, PT DBL Indonesia melakukan studi banding dengan tiga kekuatan bola basket terkemuka dunia yakni Amerika Serikat, Filipina, dan Australia. Hasil adaptasi itu dibuat menjadi standar operasional (SOP) NBL Indonesia.

Benchmark dilakukan dengan liga profesional terbaik dunia NBA. Di NBA, studi banding dilakukan bagaimana membuat kemasan tontonan yang menarik. Tim DBL Indonesia belajar langsung bagaimana NBA Entertainment mengelola sisi hiburan yang menarik dan membuat penonton terhibur.

"Semua celah kelebihan mereka dibuka lebar. Kami belajar mengelola hiburan-hiburan dari markas NBA di New York. Untuk penerapan di pertandingan, kami menonton dan mengamati langsung di pertandingan-pertandingan kompetisi reguler atau laga tur NBA ke Asia," ucap Puji Agus Santoso, External Event Senior Manager PT DBL Indonesia.

Tim berbeda diterbangkan ke Australia. Australia memiliki liga bola basket (NBL) yang dikenal rapi dan praktis. Sistem yang rapi dan praktis itu diadopsi untuk patokan penyelenggaraan. NBL Indonesia sulit menggunakan sistem pertandingan NBA karena infrastruktur yang tidak mendukung.

"Kami memilih Australia, sebab mereka sangat jenius menciptakan sistem pertandingan yang rapi dan sistematis. Sangat cocok digunakan di Indonesia," ucap Azrul.

AS dan Australia memang sudah sangat akrab dengan DBL Indonesia sebab mereka menggelar bola basket SMA terbesar se-Indonesia bernama DBL (Development Basketball League) sejak 2004. Output liga DBL adalah mengirimkan atlet terbaik ke Amerika Serikat dan Australia. Untuk bisa terpilih, mereka harus melewati kawah penempaan (candradimuka) bernama DBL Camp. DBL Camp dikelola World Basketball Academy dari Australia. Pemilihan World Basketball Academy karena alasan independensi dan transfer knowledge di level pelajar.

Ada tim yang dikirim ke Filipina. Pemilihan ke Filipina adalah alasan kedekatan (proximity). Filipina mengelola bola basket profesional sejak 1970-an bernama Phillipine Basketball Associaton (PBA). Studi banding ke Filipina untuk melihat bagaimana liga profesional dengan rasa Asia Tenggara.

Sintesis dari studi banding itulah yang dibuat sebagai model pengelolaan liga. Model itu disetujui oleh Dewan Komisaris dan dijadikan acuan manajemen liga selama lima tahun ke depan sejak 2010.

Kerja Ekstra Keras

Liga NBL Indonesia diawali dengan benturan normatif dan kebiasaan. Pengelola liga menerapkan disiplin tanpa pengecualian. Jas adalah busana wajib pakai saat memasuki lapangan. Sepatu resmi (bukan kets) wajib dipakai pelatih dan tim pelatih saat bertanding. Hari Jumat, diizinkan memakai batik.

Pemain pun demikian. Pemain tak diizinkan memakai kaos oblong saat di lokasi pertandingan. Pakaian setidaknya polo dan harus dimasukkan. Memakai sandal di area pertandingan adalah terlarang. Hukuman peringatan dan denda akan diberikan atas pelanggaran-pelanggaran itu.

"Kami memiliki tim yang bertugas memantau dan membuat foto-foto pelanggaran itu sebagai bukti. Jika tim atau pemain tidak mengakuinya, kami tinggal mengeluarkan bukti-bukti yang kami miliki. Denda pun dikirimkan. Jika mereka menolak membayar atau mengemplangnya, pemotongan subsidi kami lakukan," jelas Puji.

Itulah pelajaran dari Liga Bola Basket Australia. Mengelola liga dengan simpel dan praktis serta rapi bisa dilihat di bola basket Australia. Australia pun memiliki banyak pemain top di NBA karena membiasakan berdisiplin dan bermain simpel. Ada Aron Bynes dan Patty Mills yang menjuarai NBA bersama San Antonio Spurs. Juga Matthew Dellavedova yang sekarang ke final NBA bersama Cleveland Cavaliers.

Perlahan-lahan liga membaik. Brand NBL Indonesia menguat sejalan dengan meningkatnya kualitas pertandingan. Bandingkan, ketika masih bernama IBL, jumlah penonton ditaksir hanya 35 ribu per tahun. Setelah bernama NBL Indonesia, jumlah penonton langsung 170.194 orang (terjadi kenaikan hampir 500%). Sedangkan penonton via live streaming mencapai 1 juta orang.

Pebasket yang terlibat sebanyak 264 orang (185 NBL dan 79 WNBL) dengan total pertandingan 295 gim (246 NBL dan 49 WNBL). Liga bola basket perempuan (WNBL), yang sebelumnya terbengkalai, sekarang dihuni enam tim, dengan lima regu berpotensi saling mengalahkan.

Pola bisnis NBL Indonesia pun jelas. Sampai tahun 2014, pendapatan mereka dari sponsorship mencapai 70%, 20% dari penjualan tiket, dan 10% dari nonsponsorship (merchandising/licensing). "Namun itu tidak ideal. Idealnya adalah 40% sponsorship, 30% non sponsorship, 30% tiket sales," kata Azrul kepada saya di beberapa kesempatan diskusi. "Kami bergerak tanpa dana pemerintah. Juga 0 rupiah dari perusahaan rokok," jelas Azrul. Itu sejalan dengan idealisme DBL Indonesia yang ketika mengelola kompetisi bola basket SMA adalah menciptakan student athlete, sikap profesional, dan tidak menerima sponsor rokok.

Pola bisnis itu belajar dari NBA. Sponsorship dari hak siar TV dan merchandise menjadi tulang punggung pendapatan liga. Hak siar TV itu diterjemahkan di Indonesia dengan mengkreasi tayangan live streaming. NBA juga melarang rokok sebagai sponsor olah raga.

Tiga Domain Pengelolaan Event

Dua peneliti asal Amerika Serikat dan satu dari Kanada membuat penelitian menarik tentang kesuksesan penanganan sebuah event olah raga. Penelitian mereka berjudul Understanding Sports Event Success: Exploring Perceptions of Sports Event Consumers and Event Providers. Penelitian itu dimuat di Journal Sports and Tourism Volume 18 tahun 2013.

Kyriaki (Kiki) Kaplanidoua, Shannon Kerwinb, dan Kostas Karadakis mengatakan ada tiga indikator besar kesuksesan pengelola event yakni efektivitas manajemen, rencana strategis, dan pengelolaan komunitas. "Ketiga variabel besar itu akan beririsan dengan permintaan terhadap hiburan via olah raga konsumen," ujar mereka bertiga.

Kobatama, dengan era pebasket asing 1994, memang punya rencana strategis bagus, tetapi lemah dalam efektivitas manajemen. Dukungan komunitas tak maksimal karena disponsori rokok.

IBL lemah di ketiga variabel di atas pada awal penyelenggaraan. Apalagi rokok masih menjadi sponsor utama. Perencanaan strategis dan dukungan komunitas mulai membaik pada era Agus Mauro. Namun, sayangnya program IBL terputus di tengah jalan akibat mosi tidak percaya kepada Direktur IBL oleh beberapa klub.

Setelah dua tahun terombang ambing tanpa arah, PT DBL Indonesia pun diminta PP Perbasi menangani IBL, yang secara branding diubah namanya menjadi NBL Indonesia. Manajemen DBL Indonesia memang efektif sebab mereka berpengalaman mengelola event basket SMA DBL sejak 2004. Manajemen kolektif kolegial dilakukan dengan klub-klub lewat dewan komisaris. Jalur komando organisasi sangat jelas dan tegas. Komisioner dijamin netral sebab tidak punya klub dan tidak dibayar.

Perencanaan strategis pun jelas. Kompetisi dibuat rapi. Aturan dibuat tegas guna menanamkan respek kepada produk NBL Indonesia itu sendiri. Jadwal sudah dibuat satu tahun di depan agar semua tim membiasakan membuat program, bukan sistem kebut semalam!

Dukungan komunitas digarap serius. Twitter menjadi senjata andalan. Mereka yang tidak bisa nonton langsung, bisa mengikuti pertandingan via live tweet, kapan pun dimana pun asal ada koneksi internet. Blogger Mainbasket digandeng agar penetrasi semakin tajam.

Belakangan, live streaming digarap serius dan menjadi model bisnis masa depan. Bayangkan, jika yang menonton 1 juta orang dan pada setiap seri mereka cukup ditarik dana partisipasi Rp2.000 (senilai tiga potong gorengan), uang yang terkumpul 2 miliar rupiah. Program live streaming lebih seksi daripada blocking time, yang mengurangi keuntungan sebab harus membayar ratusan juta rupiah.

NBL Indonesia adalah entitas bisnis yang suatu saat nanti bisa menjadi contoh kemandirian olah raga di Indonesia. Itu buah dari belajar pengelolaan event dari NBA.

Kajian Teknis Pertandingan

Setiap selesai kompetisi reguler NBL Indonesia, kita bisa melihat daftar peringkat 12 peserta. Peringkat itu adalah rapor kinerja dan achievement. Peringkat itu muncul bukan secara kebetulan. Peringkat disusun berdasarkan sintesis memasukkan kemasukan angka dari sebuah tim yang merupakan akumulasi dari performa masing-masing individu.

Banyak fakta menarik ditemukan dalam kurun waktu lima tahun penyelenggaraan. Namun, analisis kuantitatif-komparatif dilakukan hanya pada empat musim terakhir kepada 12 tim yang sama sejak musim 2011-2012. Musim pertama, karena masih tahap pengenalan, saya abaikan, semata untuk akurasi data.

Cara paling mudah melihat kinerja adalah menggunakan rasio memasukkan-kemasukan (RMK). Dari data klasemen, bisa dihitung perbandingan antara memasukkan dan kemasukan. Secara logika, jika tim lebih banyak poin memasukkan daripada kemasukan, maka nilai perbandingan tersebut pasti akan lebih besar dari 1 (contoh: memasukkan 100, kemasukan 90, maka RMK 1,111). Sebaliknya, jika tim tersebut lebih banyak kemasukan daripada memasukkan, maka nilai perbandingannya akan lebih kecil dari 1 (contoh: memasukkan 90, kemasukan 100, RMK 0,900).

NBL Indonesia mengikuti aturan FIBA dimana perbandingan mempengaruhi ranking tim dalam klasemen. Sedangkan di NBA, ranking ditentukan oleh persentase menang kalah dalam satu musim. Jadi variabel memasukkan-kemasukan tergolong penting dalam kompetisi bola basket pro di Indonesia.

Dalam konteks kemajuan bersama, secara logika, RMK itu idealnya di antara angka 0,9 sampai 1,1. Sebab, kemenangan/kekalahan dengan selisih 10 angka masih bisa dibilang menunjukkan kedua tim saling melawan dan berimbang.

Musim 2011/2012, angka perbandingan tertinggi adalah 1,4. Secara logika matematika, RMK untuk liga pasti sama dengan 1 (konsekuensi matematis akibat sistem pertandingan full kompetisi dimana poin memasukkan suatu tim pasti menjadi bagian poin kemasukan tim lain). Jadi, secara logika, ada tim dengan rasio 0,6.

Tabel 1 Perbandingan Rasio Memasukkan-Kemasukan

 

Dari Tabel 1, rasio memasukkan-kemasukan berada dalam rentang 0,6 sampai 1,4. Jumlah rasio memasukkan-kemasukan terbanyak di angka 1,3 yaitu empat tim. Tim itu adalah SM Britama, Dell Aspac, Garuda, dan CLS Knights. Sedangkan yang 1,4 adalah Pelita Jaya Esia. Tim dengan rasio 0,6 adalah Tonga BSC dan NSH GMC Riau.

Pada musim berikutnya, 2012-13, sebaran jumlah tim menjadi lebih merata. Jangan harap bisa menemukan angka rasio 0,6 seperti musim kedua sebab sudah dihapus sendiri oleh tim-tim lewat latihan keras dan komitmen liga. Rasio memasukkan-kemasukan terdistribusi antara kisaran 0,7 hingga 1,3, meskipun masih ada juga yang memiliki rasio 1,4 (Pelita Jaya). Rasio 1,3 dimiliki Dell Aspac sementara SM Britama dan Garuda sama-sama 1,2. Sedangkan rasio 0,7 masih dimiliki Tonga BSC dan NSH GMC Riau.

Musim 2013-14, distribusi keseimbangan permainan anggota IndiHome NBL Indonesia semakin merata. Rasio memasukkan-kemasukan berada dalam selang 0,8 - 1,2. NSH GMC, Bima Sakti Malang, dan Pacific Caesar Surabaya adalah pemilik rasio memasukkan kemasukan 0,8. Sedangkan 1,2 adalah CLS dan Aspac. SM Britama memimpin dengan 1,3 dan Pelita Jaya Energi MP turun menjadi 1,1.

Pada musim 2014-15, range rasio memasukkan-kemasukan terbanyak berada antara 0,8 sampai 1,2, meskipun muncul lagi rasio 0,7 (NSH GMC) dan 1,3 (Pelita Jaya Energi MP). Trio Aspac, CLS, dan SM memiliki rasio 1,2.


Secara kuantitatif, angka itu menunjukkan kinerja yang bagus dari 12 tim anggota IndiHome NBL Indonesia. Perbaikan kualitas dan intesitas latihan, pemilihan pemain yang pas, dan respek pada pertandingan membuat secara overall dari segi teknis liga semakin sehat dan kompetitif.

NBL mempelajari kemajuan teknis itu dari basket Filipina. Basket Filipina selalu bermimpi bisa menjadi Amerika Serikat. Mereka menggunakan benchmark skill pebasket AS sebagai acuan sehingga selalu maju. Hal sama sudah tertular di NBL Indonesia.

Model Penyelenggaraan Olah Raga

Reputasi PT Deteksi Basket Lintas (DBL) Indonesia sebagai sports management terbaik akhirnya mendapatkan pengakuan. Perusahaan pengelola liga basket terbesar di Tanah Air berhasil meraih penghargaan Indonesia Most Creative Company 2015 dari majalah bisnis ternama SWA.

Acara penyerahan award ini dilakukan di Ceria Room Hotel Shangri-La Jakarta, Kamis 19 Maret 2015, bertepatan acara Seminar dan Malam Penghargaan The Best Outstanding Corporate Innovator (OCI) Award yang digelar oleh SWA. PT DBL Indonesia menerima penghargaan tersebut bersama 24 perusahaan ternama seperti PT Astra Daihatsu Motor, Jco, Kinocare Era Kosmetindo, PT Gajah Tunggal, PT Kopi Luwak (Luwak White Coffee), JNE, PT Fastfood Indonesia, dll.

Konsistensi dan sustainable growth merupakan salah satu kunci penting bagi PT DBL Indonesia meraih penghargaan sebagai salah satu perusahaan paling kreatif di Indonesia tahun 2015 versi majalah SWA.

"PT DBL Indonesia terbukti berhasil mengaktifkan olah raga bola basket khususnya dengan cara yang kreatif dan kembali menjanjikan secara bisnis," kata Kemal Effendi Gani, Chairman and Group Chief Editor SWA.

Sebelumnya, dalam acara MarkPlus Conference 2015 yang dihelat di The Ritz Carlton Ballroom Pacific Place, Jakarta pada 11 Desember 2014, penghargaan diberikan pakar marketing dunia dan CEO MarkPlus Hermawan Kartajaya.

“Inovasi sports marketing yang diusung oleh Azrul Ananda, merupakan satu hal yang baru di industri olah raga Tanah Air. Konsep student athlete yang diusung oleh DBL sangat brilian. Sangat layak gelar Marketing Champion 2014 diberikan untuk Azrul Ananda,” kata Hermawan.

“DBL is Wow, Azrul Ananda Wow. Azrul berhasil mengembangkan potensi anak muda di Indonesia dengan baik,” ujar Hermawan.

Kemauan belajar dari budaya unggul tontonan olah raga membuat Indonesia memiliki model penyelenggaraan event. Dibandingkan dengan bulu tangkis yang lebih berprestasi dunia, NBL Indonesia memang masih jauh. Berprestasi di level Asia Tenggara pun masih berat. Namun, dari segi tontonan, hasil belajar dari AS, Filipina, dan Australia itu layak diberi acungan dua jempol.

Bahkan bola basket bisa selangkah lebih maju dari sepak bola yang lebih populer. Ketika konflik masih menjadi tuan di rumah sepak bola, bola basket sudah memiliki kendaraan untuk merebut pasar tontonan olah raga. Memang tidak mungkin menggantikan sepak bola sebagai tontonan utama di Indonesia karena masalah budaya olah raga. Namun bisa mendekati dan mengambil persentase kue penonton, membuat kita layak berbangga sebab punya tontonan yang merupakan sintesis dari negara-negara hebat di dunia.

Wed, 21 Oct 2015 @13:07


Write Comment

Name

E-mail (not published)

URL

Comment