Salam Olahraga!!!
image

Dr. Eko Widodo, sports lecturer/jounalist

ekowidodo@yahoo.com;WhatsApp- +628989-777777


Penulis berpendidikan S1 Fateta IPB; Magister Manajemen Pemasaran Univ. Moestopo; S3 Program Pasca Sarjana UNJ di Sports Education. Wartawan olah raga 1994-2015 di BOLA. Sekarang Wartawan di Sports Channel Indonesia; Dosen Pascasarjana UNJ
widget medsos

Buku Sports Event
image

Sport in the City - The Role of Sport in Economic and Social Regeneration # editor C Gratton dan I Henry (2001); 335pp Routledge

Buku Sports Development
image

Sports Development - Policy, Process, and Practice # editor Kevin Hylton dan Peter Bramham (2008); 285pp Routledge

Buku Sports Marketing
image

Introduction to Sport Marketing # Aaron C.T. Smith (2008); 341pp Elsevier

Copyright © 2018 EkoWidodo · All Rights Reserved

Cek Nama Domain

Check Domain Name ?

Batik Pria Tampan
image

BATIK PRIA TAMPAN

Rendang Uninam
image

Rendang Uninam

RSS Feed

Global Sports Impact 2016: Menjadi Tuan Rumah Olahraga, Untung Atau Merugi? Denmark Untung Rp 40 M

image

TIGA puluh delapan negara menjadi tuan rumah 83 event olahraga di seluruh dunia pada tahun 2015. Jumlah 83 event itu yang dikaji Global Sports Impact (GSI) pada 2016. Mereka tersebar dalam 119 kota.

Dibandingkan dengan tahun 2014, benua Eropa ternyata paling dominan. Namun, dari proporsional event, Eropa mengalami penurunan, sedangkan event yang digelar di Amerika Utara dan Oceania mengalami kenaikan persentasenya.

Tahun 2015 adalah setahun sebelum Olimpiade Rio 2016. Biasanya, setahun sebelum pergelaran Olimpiade, banyak kejuaraan dunia sebagai kualifikasi menuju Olimpiade Rio 2016.


Lonjakan peserta dan penonton di Denmark 2015, panitia untung sampai 40 miliar rupiah dari penjualan tiket. (Sumber: Sportcal Research)


Contoh yang diambil GSI adalah Kejuaraan Dunia Panahan (the World Archery Championships) di Kopenhagen, Denmark. Ada lonjakan tajam kehadiran atlet dan negara peserta di tahun-tahun dimana event digelar mendahului Olimpiade musim panas.

Banyaknya peminat, berarti bonus untuk kota tuan rumah yang menyelenggarakan kualifikasi Olimpiade. Meskipun kualifikasi, namun akan menarik lebih banyak peserta dan lebih banyak liputan media dan juga lebih banyak eksposur. Indonesia mengirimkan tiga pepanah di event ini yakni Riau Ega Agatha, Ika Rochmawati, dan Hendra Purnama.


Jumlah peserta yang membeludak di Denmark 2015. (Foto: World Archery)


Faktor ini penting dalam menilai nilai suatu event, seperti yang diidentifikasi oleh GSI Events Study yang dilakukan di Kejuaraan Dunia di Kopenhagen, Denmark. Studi tersebut menemukan bahwa peserta dalam kejuaraan menghasilkan pemasukan sekitar US$3 juta (sekitar Rp 40 miliar) dari penjualan tiket.

Bagi kota-kota tuan rumah yang ingin menarik acara olahraga lebih besar, kabar gembira ini memberi pendapatan berharga. Kopenhagen berhasil sukses menggelar kejuaraan dunia dalam skala lebih kecil menjadi lebih menarik dari perspektif ekonomi dan pariwisata, khususnya di tahun pra-Olimpiade. Pada tahun 2015 banyak kontroversi berpusat seputar bidding untuk acara besar, dan khususnya seputar acara olahraga besar seperti Olimpiade.

Tiga kota menarik diri dari bidding Olimpiade musim dingin (Stockholm, Swedia; Krakow, Polandia, dan Oslo, Norwegia) karena referendum publik yang tidak menguntungkan. Hasil referendum itu dipandang sebagai pukulan balik terhadap pengeluaran publik yang dilaporkan secara luas yang disebarkan pada Olimpiade Musim Dingin 2014 di Sochi, Russia.


Olimpiade Sochi 2014 yang menelan biaya US$ 51 miliar. (Foto: ABC.net.au)


Olimpiade Sochi menghabiskan biaya US$ 51 miliar (sekitar Rp 679 triliun), menjadikannya proyek Olimpiade paling mahal yang pernah ada. Walaupun panitia bersikeras bahwa angka tersebut - yang mereka perselisihkan - mencakup biaya infrastruktur untuk membangun sebuah resor olahraga musim dingin baru. Resor itu akan terus berfungsi sebagai tempat wisata dalam beberapa dekade ke depan. Namun demikian, angka tersebut menandai Olimpiade musim dingin sebagai penggunaan uang publik yang sangat tidak menarik.

Konsekuensi dari mundurnya tiga kota tadi, bahwa hanya dua pesaing yang tersisa dalam perlombaan untuk Olimpiade musim dingin tahun 2022. Dua kandidat serius adalah Beijing (China) dan Almaty (Kazakhstan). Namun, Almaty dan Kazakhstan mengalami krisis keuangan yang serius setelah penunjukan Almaty. Kabarnya, beberapa pemasok (supplier) tidak dibayar untuk layanan mereka.


Paris, kandidat tuan rumah Olimpiade 2024. (Foto: The Independent)


Tanpa menjelaskan manfaat yang lebih luas dari menyelenggarakan Olimpiade musim dingin tersebut, sulit untuk melihat bagaimana IOC akan menarik lebih banyak kota untuk melakukan bidding Olimpiade di masa depan.

Memang, situasinya mungkin tidak berbeda dengan perlombaan untuk menjadi tuan rumah Olimpiade (musim panas) pada tahun 2024. Dengan terpilihnya walikota baru Roma pada bulan Juni 2016, kemungkinan Roma yang ingin mundur dari perlombaan tampaknya meningkat. Jika ini terjadi maka hanya tiga kota tersisa: Budapest, Los Angeles, dan Paris.

Sumber: Global Sports Impact Report 2016; World Archery 2015

 

 

Tue, 1 Aug 2017 @16:18


Write Comment

Name

E-mail (not published)

URL

Comment